Masih Perlukah Imunisasi?

4

Pada Sabtu, 23 Juli 2011 di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat saya menyampaikan keynote lecture pada “Seminar & Lokakarya Vaksin Imumisasi Halal & Berkualitas (Thoyib)”. Acara ini dibuka oleh KH Makruf Amin, Ketua Harian MUI, yang antara lain menyampaikan bahwa Syariah meliputi semua hal/ masalah kehidupan, termasuk kesehatan dan juga imunisasi ini. Karena itulah MUI juga perlu menanganinya.

Dalam pertemuan itu (yang juga berhubungan denga Hari Anak Nasional), saya sampaikan beberapa hal sebagai berikut,
– Imunisasi adalah upaya menimbulkan atau meningkatkan kekebalan secara aktif
– Imunisasi pada anak dapat mencegah terjadinya/ mengurangi beratnya Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), yaitu :
. Campak
. DPT, terdiri dari Difteri, Pertusis & Tetanus
. Tuberkulosis
. Polio
. Hepatitis B

Keputusan Menteri Kesehatan RI no .1611/MENKES/SK /XI /2005 memang mewajibkan lima jenis imunisasi, BCG, Campak, DPT, Polio & Hepatitis B, setelah melalui penelitian dari sisi pola epidemiologis, pembuktian manfaat yang sangat meluas dan sudah berjalan bertahun-tahun. Program ini tidak hanya dilakukan di Indonesia tapi juga dilakukan di berbagai negara lain di dunia.

Tuberkulosis, Tetanus, Difteri , batuk rejan (pertusis) dan Campak adalah penyakit penyebab kematian utama pada bayi. Polio juga merupakan ancaman kematian dan kecacatan pada bayi. Penyakit ini belum ada obatnya tetapi dapat dicegah dengan imunisasi. Sedangkan Hepatitis B adalah penyakit yang dapat menyebabkan sirhosis (pembengkakan/ pengerasan hati) dan kanker hati. Kelima vaksin tersebut adalah produksi dalam negeri yang telah memperoleh izin edar dari Badan POM, sehingga kualitas dan mutunya terjamin.

Jadual imunisasi anak (perlu diketahui semua orang tua) adalah sesuai usia anak:
. 0-7 hari Hepatitis B(HB)
. 1 bulan BCG, Polio 1
. 2 bulan DPT/HB 1, Polio 2
. 3 bulan DPT/HB 2, Polio 3
. 3 bulan DPT/HB 3, Polio 4
. 9 bulan Campak
. Kelas 1 SD : DT, Campak
. Kelas 2 SD : TT,
. Kelas 3 SD : TT.

– Kelima vaksin imunisasi yang diwajibkan pemerintah Indonesia tersebut, tersedia di Posyandu, Puskesmas, dan sarana kesehatan lainnya.
– sejarah Imunisasi di Indonesia sudah dimulai sejak 1956 (imunisasi cacar waktu itu, yang sekarang penyakitnya sudah terbasmi dari muka bumi), dan kini merupakan kebijakan global di seluruh dunia.
– Imunisasi BCG dikembangkan di Indonesia sejak 1973. Tahun 1976 mulai dikembangkan imunisasi DPT dibeberapa kecamatan di pulau Bangka. Tahun 1977 ditetapkan sebagai fase persiapan Pengembangan Program Imunisasi (PPI), kemudian pada tahun 1980 program imunisasi secara rutin terus dikembangkan dengan memberikan beberapa antigen, yaitu BCG, DPT, Polio dan Campak. Mulai tahun 1992 diperkenalkan imunisasi Hepatitis B di beberapa kabupaten di beberapa propinsi dan mulai tahun 1997 imunisai Hepatitis B dilaksanakan secara nasional. Sampai saat ini program imunisasi di Indonesia secara rutin memberikan antigen BCG, DPT, Polio dan Campak., dan hepatitis B.
– Contoh penyakit yang berhasil dieradikasi/dibasmi dengan imunisasi wajib adalah penyakit cacar sehingga dunia dinaytakan bebas cacar pada tahun 1976. Penyakit berikutnya yang akan dieradikasi adalah penyakit polio.
– Imunisasi pada orang dewasa antara lain adalah vaksin meningitis, yellow fever, rabies, influenza, dll

Sebagai penutup saya sampaikan :
– Imunisasi merupakan upaya paling efektif mencegah dan memutuskan rantai penularan penyakit berbabahaya.
– Imunisasi tidak hanya berguna bagi diri sendiri tetapi juga berguna bagi masyarakat lain dilingkungannya
– Peran serta tokoh masyarakat terutama tokoh agama sangat dibutuhkan.
– Pemerintah berkewajiban menyediakan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan imunisasi yang aman.

Kalau bukan kita siapa lagi…..
Kalau bukan sekarang kapan lagi……
Penuhi hak anak Indonesia untuk hidup sehat dan terhindar dari Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Prof dr Tjandra Yoga Aditama
SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)
Kementerian Kesehatan RI

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

4 Komentar

    • Terima kasih karena telah berselancar di website sehatnegeriku.com, mba Nisa Fauziah. Beberapa penjelasan mengenai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terdapat pada artikel pada link berikut:
      http://sehatnegeriku.com/pentingnya-imunisasi-untuk-mencegah-wabah-sakit-berat-cacat-dan-kematian-bayi-balita/

      Untuk permohonan informasi lebih lanjut dan komprehensif,
      dapat mengisi formulir permohonan informasi di situr PPID Kemenkes RI
      pada link berikut:
      http://www.ppid.depkes.go.id/index.php?option=com_smartformer&Itemid=115

      terima kasih

      Regards,
      Pusat Komunikasi Publik

    • Anak step /kejang itu namanya kejang non polio. Kasus ini terjadi karena vaksin oral polio dari WHO. Kasus akan terus meningkat selama anak2 diimunisasi massal. Hal ini terjadi sampai parah di india sampai hampir 100.000 kasus per tahun dengan kasus lumpuh bahkan meninggal, sempat terjadi puluhan di israel dan vaksinasi polio dihentikan oleh pemerinath israel tahun 2005, karena terbukti positif penyebabnya adalah vaksin polio, setelah itu israel aman dari kejang bayi non polio, bahkan tidak terjadi kasus polio sampai akhir2 ini ditemukan beberapa kasus polio tidak wajar. (ada kemungkinan WHO mengirim polio ganas ke israel karena menolak vaksin). Tetangga saya juga ada yang lumpuh karena kejang non polio, sekarang anaknya sudah agak besar, dan di kursi roda.
      Jika WHO mengirim virus berbahaya ke kita karena menolak vaksin gimana?? padahal kita gak punya orang pinter sama sekali. nggak punya sama sekali?? kok bisa??? apa karena UNIV aja mbayar keluarnya mbayar mahal??

      HB dilarang di perancis setelah diteliti para ilmuwan mereka dan positif menyebabkan kerusakan persendian tulang yang tidak/sulit sembuh sehingga jangka panjang menyebabkan chronic.

  1. Tolong lebih hati2 ketika membuat vaksin, kurang efektif itu lebih baik dari pada resiko lebih tinggi. Mencegah bencana yang pasti (terbukti) timbul itu lebih diutamakan dari mencegah bencana yang tidak pasti datang.

Tinggalkan Balasan