Enterohaemorrhagic Esherichia Coli Tidak di Temukan diIndonesia

0

Berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dalam dua tahun terakhir di Indonesia tidak ditemukan Enterohaemorrhagic Esherichia Coli (EHEC) bakteri penyebab KLB dan menimbulkan puluhan kematian di beberapa negara Eropa. Sedangkan bakteri penyebab diare yang ada di Indonesia adalah jenis Enterotoxigenic Esherichia Coli (ETEC).

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH saat jumpa pers tentang perkembangan EHEC dan Haemolytic Uraemic Syndrome (HUS) serta antisipasi pemerintah Indonesia di Jakarta, 10 Juni 2011. Dalam kesempatan tersebut juga hadir dan memberikan keterangan Wakil Menteri Pertanian, Ir. Bayu Krisnamurthi, Kepala Badan POM, Dra. Kustantinah, Apt. serta Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS.

Prof. Tjandra menambahkan bahwa bakteri E. coli yang menyebabkan KLB di beberapa negara Eropa saat ini adalah jenis EHEC yang merupakan salah satu strain (grup) E. coli dengan serotype O104:H4. Sedangkan HUS adalah kumpulan gejala penyakit yang merupakan komplikasi infeksi EHEC. Dari semua kasus EHEC 10 persen diantaranya akan berlanjut menjadi HUS yang angka kematiannya berkisar antara 3 – 5 persen.

EHEC mulai menimbulkan KLB di Jerman bagian utara pada bulan Mei 2011 kemudian menyebar di sebagian negara Eropa. Sampai tanggal 8 Juni 2011 jumlah penderita EHEC sebanyak 2.909 orang dengan rincian 760 berlanjut menjadi HUS dengan kematian 19 orang dan 2149 orang tidak menjadi HUS dengan kematian 8 orang.

EHEC ditularkan melalui makanan/minuman yang tercemar kuman (foodborne disease). Penularan bisa melalui: makanan berupa buah-buahan atau sayuran yang dimakan segar (tanpa dimasak), susu yang diminum tanpa proses pengolahan, tangan yang tidak bersih kemudian mencemari makanan/minuman.

EHEC hidup optimal pada suhu 70C – 500C, dapat hidup pada suasana asam (pH 4,4), masa inkubasi 2 – 8 hari (rata-rata 4 hari), mampu memproduksi toksin yaitu Verotoksin (VT) 1 dan 2, tetapi akan mati pada pemanasan suhu 700C selama 2 menit.

Gejala yang ditimbulkan infeksi EHEC
adalah sakit perut kadang disertai kram, muntah (50% kasus), panas (30% kasus), diare disertai darah (haemorraghic colitis). Sedangkan gejala HUS: kegagalan ginjal akut (acute renal failure), anemia (haemolytic anemia), trombocytopenia, gangguan neurologis, dan bisa berlanjut pada stroke dan koma.

Cara pencegahan untuk perorangan
Mencuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun, kemudian bilas dengan hati-hati dan keringkan menggunakan handuk dapur atau handuk sekali pakai: sebelum menyiapkan, melayani, atau makan; setelah menggunakan toilet atau mengganti popok; sesudah menangani sayuran mentah, atau daging; setelah kontak dengan hewan ternak atau setelah mengunjungi peternakan; setelah setiap kontak dengan tinja dari hewan peliharaan.


Untuk penjamah makanan

setiap orang dengan diare atau muntah harus istirahat dari penanganan makanan; semua buah-buahan dengan kulit harus dikupas dan kemudian dibilas dengan air bersih; semua sayuran harus dicuci dengan baik dengan air bersih, terutama yang tidak akan dimasak sebelum dikonsumsi; memasak semua bahan makanan hingga benar-benar matang (pemanasan >70oC), dengan tetap menjaga kebersihan seluruh proses; hindari penyebaran kuman melalui alat masak, seperti talenan, pisau potong, dari makanan mentah ke makanan matang/siap saji.

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

Tinggalkan Balasan