Antisipasi Penanggulangan Penyakit akibat Banjir Bandang Pasaman

0

Hari ini (25/02/12), merupakan hari keempat pasca musibah banjir bandang Pasaman, Sumatera Barat. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dengan ancaman penyakit akibat banjir.

“Penyakit yang harus diantisipasi meliputi diare, penyakit kulit , infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), campak, dan lain-lain. Selain itu, terdapat kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), sehingga masyarakat harus lebih berhati-hati”, ujar Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama.

Berbagai langkah antisipasi penanggulangan penyakit akibat banjir bandang Pasaman sudah dilakukan tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

Kemenkes bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat telah melaksanakan langkah-langkah, antara lain rapid health assessment (RHA) dan penentuan masalah; pendataan akses sanitasi; distribusi logistik; bimbingan deteksi dini kejadian luar biasa (KLB) melalui surveilans harian seluruh posko setiap pukul 17.00 WIB; distribusi anti tetanus serum (ATS), vaksin tetanus toxiod (TT) dan vaksin anti rabies (VAR); penyegaran kepada puskesmas tentang perawatan luka serta pemberian ATS dan TT pada pasien luka, penduduk dan relawan; pemberian VAR pada pasien yang terkena GHPR; analisis data imunisasi terutama campak dan pemantauan ketat suspek campak; Penyerahan tablet air minum bebas kuman (aquatabs) serta personal hygiene kit; penyuluhan stop buang air besar (BAB) sembarangan dan penggunaan air bersih, misalnya air PDAM untuk minum dan aquatab untuk mandi; distribusi makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI); serta pendataan sasaran kesehatan ibu dan anak (KIA).

Lebih lanjut, menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, akan dilakukan tidak lanjut melalui surveilans penyakit berpotensi KLB selama dua minggu berturut-turut; penyuluhan, diutamakan pencegahan penyakit dan keracunan makanan; pemberantasan vektor; dan kesiapsiagaan dan pemantapan koordinasi.

“Jika ditemukan kasus campak, akan segera dilakukan imunisasi. Selain itu, masyarakat pengungsi akan dilatih untuk membuat penyaring air sederhana yang terbuat dari pasir”, tandas Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faksimili 021-52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567 dan 081281562620, atau alamat e-mail info@depkes.go.id dan kontak@depkes.go.id.

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

Tinggalkan Balasan