Pentingnya Peningkatan Kesehatan Masyarakat Pesisir

1

Menkes pada Kegiatan Peluncuran Green Urban Living dan Berlari untuk Berbagi, Makassar (23feb2013) MYKelompok nelayan di Tanah Air perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pembangunan kesehatan 2010-2014. Data BPS tahun 2011 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 8.090 desa pesisir yang tersebar di 300 kabupaten/kota pesisir. Dari 234,2 juta jiwa penduduk Indonesia, ada 67,87 juta jiwa yang bekerja di sektor informal, dan sekitar 30% diantaranya adalah nelayan. Data lainnya, 31 juta penduduk miskin di Indonesia, sekitar 7,87 juta jiwa (25,14%) di antaranya adalah nelayan dan masyarakat pesisir.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan, RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat meluncurkan program Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Pesisir atau Green Urban Living, serta kegiatan “Berlari untuk Berbagi” di Desa Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar (23/2). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo; Direktur Bosowa Foundation, Melinda Aksa; Direktur Utama PT Semen Bosowa, Subhan Aksa; dan penggagas Komunitas Berlari untuk Berbagi, Sandiaga Uno.

“Nelayan adalah kelompok masyarakat yang rawan kemiskinan dikarenakan pekerjaannya pekerjaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan musim, sehingga dalam setahun rata-rata nelayan hanya dapat melaut dalam 172 hari”, ujar Menkes.

Menurut Menkes, risiko kesehatan selalu mengikuti setiap gerak nelayan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Mengutip data hasil penelitian Kementerian Kesehatan (2006) mengenai penyakit dan kecelakaan yang terjadi pada nelayan dan penyelam tradisional, menyebutkan bahwa sejumlah nelayan di Pulau Bungin, Nusa Tenggara Barat menderita nyeri persendian (57,5%) dan gangguan pendengaran ringan sampai ketulian (11,3%). Sedangkan, nelayan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, mengalami kasus barotrauma (41,37%) dan kelainan dekompresi (6,91%).

Menkes menjelaskan, upaya Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dilakukan melalui 8 kegiatan lintas Kementerian/Lembaga yang tertuang dalam Kepres No.X/2011. Sementara itu, upaya yang dilakukan di bidang kesehatan adalah meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya bagi masyarakat nelayan. Kegiatan Puskesmas diarahkan pada upaya-upaya kesehatan promotif-preventif dengan focal point keselamatan kerja dan disertai berbagai upaya lain yang mencakup: Perbaikan gizi; Perbaikan sanitasi dasar dan penyediaan air bersih; Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA); Penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, dan Pemberdayaan masyarakat.

“Upaya di bidang kesehatan mempunyai sasaran di 816 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), dimana pada tahun 2012 baru menjangkau 500 PPI”, kata Menkes.

Lebih lanjut Menkes mengatakan, Kemenkes memiliki beasiswa untuk mendukung pendidikan, khususnya di bidang kesehatan sebesar 3 Milyar rupiah (2011) dan meningkat menjadi 9 Milyar rupiah (2012). Menkes sangat mengharapkan tenaga-tenaga kesehatan yang berasal dari masyarakat nelayan yang akan lebih peduli di terhadap masalah kesehatan di lingkungan sekitarnya.

“Kalau dari masyarakat nelayan ada yang ingin meneruskan pendidikan dalam bidang kesehatan apakah itu SMK Kesehatan, perawat, bisdan, dokter, bisa mendapat bagian dari beasiswa ini. Silahkan daftarkan kepada Dinas Kesehatan. Kita mengharapkan dari masyarakat nelayan nanti ada perawat, bidan, dokter, mungkin dokter spesialis yang lebih peduli kepada masalah kesehatan di daerah ini”, kata Menkes.

Pada kesempatan tersebut, Menkes menyampaikan apresiasi kepada Bosowa Corporindo yang telah merencanakan untuk melaksanakan kegiatan CSR, terkait perbaikan higiene-sanitasi serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id.

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

1 Komentar

  1. STP : They actually cross the plant with a gtaneicelly modified plant then use the pollen to produce a sterile seed. When they plant this seed the fruit will not have any seed, just white coloured seed……so we eat ‘ah kua’ watermelon, seedless…..ha ha ha, LOL!

Tinggalkan Balasan