Menerjemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) dalam Agenda Pembangunan Nasional

0

New York 23 September 2015
Kita telah belajar banyak dari Millenium Development Goals (MDGs). Lebih dari 15 tahun terakhir, delapan tujuan dan 60 target MDGs telah melahirkan perbaikan yang signifikan dalam pembangunan di tingkat nasional, regional dan global. MDGs telah mengajarkan kita untuk memahami dan mengakomodasi multi dimensi yang melekat pada pembangunan. MDGs membantu membangun momentum gerakan anti-kemiskinan, yang merupakan salah satu gerakan global sepanjang sejarah. MDGs juga sukses dalam membangun momentum untuk peningkatan kepedulian dan gerakan kesehatan balita, anak, remaja dan perempuan, membuat lebih banyak anak perempuan dapat bersekolah, mengentaskan kemiskinan lebih dari satu milyar orang di dunia dan mencegah kematian. Namun demikian, disamping tonggak keberhasilan tersebut, di beberapa daerah, ketidak setaraan dan penghambat pembangunan masih ada.

Demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Prof. DR.dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K) dalam sambutannya pada pertemuan “Menerjemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDG’s) dalam Agenda Pembangunan Nasional” yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI), International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Ford Foundation, OSF, MAVC dan TIFA di Gedung Ford Foundation New York USA, 23 September 2015.

Hadir dalam pertemuan tersebut Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes RI dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDG’s Diah S. Saminarsih, MSc.

Lebih lanjut Menkes mengatakan sebagai tindak lanjut MDGs, selama 15 tahun kedepan, SDGs akan diarahkan pada kewajiban-kewajiban untuk melanjutkan dan memperluas keberhasilan MDGs. Mengamati inklusifitas dalam proses penyusunannya, SDGs diharapkan mempu membangun diatas pondasi yang sudah dibuat MDGs. Integrasi antar dimensi yang berbeda dari pembangunan berkelanjutan, tidak hanya terkait pencapaian target, namun juga penting dipastikan upaya bersama di tingkat nasional untuk memasukkan SDGs dalam agenda pembangunan nasional – dari perencanaan sampai pelaksanaan.

Hal penting yang perlu diingat bersama adalah SDGs tidak dapat dilaksanakan sendiri, tanpa dukungan semua pihak. Dalam pelaksanaannya diperlukan partisipasi aktif dari banyak pihak, pemerintah, LSM, sektor swasta, akademisi dan media. Implementasi SDGs harus dilaksanakan secara inklusif, sama seperti proses penyusunannya. Ada tiga elemen penting dalam pengarusutamaan pelaksanaannya yaitu kerangka kebijakan, struktur institusi dan keterlibatan masyarakat. Tiga hal tersebut harus senantiasa disinkronkan satu sama lain tandas Menkes.

Kedepan, dokumen SDGs akan diadopsi oleh negara-negara dalam Sidang PBB ke 70 minggu ini dengan judul Transformasi Dunia Kita: Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dokumen ini mencantumkan transformasi yang dunia harus lakukan untuk memenuhi aspirasi dan tantangan Agenda Pembangunan Pasca 2015. Salah satu hal penting adalah pembangunan tidak bisa meninggalkan siapapun. Ide ini mempengaruhi cara berfikir kita dan bagaimana kebijakan dibuat. Kebijakan harus dirancang untuk mengedepankan kelompok berisiko, dimana lingkungan dan cara hidupnya, merupakan tantangan pembangunan, ujar Menkes.

Di tingkat nasional, Indonesia memiliki “Nawa Cita” atau 9 agenda prioritas. Seperti SDGs, Nawa Cita juga diprioritaskan kepada yang berisiko tinggi. Kita perlu sadari bersama, bahwa Nawa Cita bisa berfungsi sebagai kendaraan untuk membawa SDGs menjadi nyata. Perencanaan yang terintegrasi di tingkat nasional, tidak hanya melibatkan kementerian teknis, tapi juga melibatkan lembaga perencanaan tingkat nasional sebagai penghubung perencanaan pembangunan nasional.

Pada akhir sambutannya Menkes menekankan kembali bahwa kita sudah memasuki era 15 tahun kedepan (SDGs), mari merefleksikan apa yang sudah sukses dilaksanakan dan apa yang perlu kita lakukan lebih baik. SDGs memberikan kepada dunia, infrastruktur yang cukup, untuk melakukan transformasi dunia di tahun 2030. Namun demikian, sejauh mana transformasi dapat dilakukan, tergantung pada aksi yang dilakukan di tingkat nasional.

Sebagai penutup, saya mengulang kembali bahwa aspirasi transformasi yang dibawa SDGs, hanya dapat berhasil, apabila kita sudah melakukan tranformasi cara berfikir. Tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, namun mengintegrasikan kegiatan dari perencanaan sampai pelaksanaan. Saya berharap, transformasi dapat dilahirkan di dalam ruangan ini dan dilanjutkan dengan mengajak hadirin untuk bertranformasi dalam pemikiran dan memberikan rekomendasi terbaik, untuk implementasi di tingkat nasional.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.

Bagikan.

Tentang Penulis

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat melaksanakan koordinasi dan pelaksanaan komunikasi publik melalui media massa dan opini publik, pelayanan informasi publik serta hubungan antar lembaga.

Tinggalkan Balasan