Verikasi Kasus Kematian Balita di Kecamatan Mbua Kab. Nduga Prov. Papua

0

Jakarta, 7 Desember 2015

Kementerian Kesehatan telah mengirimkan Tim Gabungan pada tanggal 25 Nopember 2015 dan 1 Desember 2015 diperkuat dengan tim dari Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, Dinkes Provinsi Papua, Dinkes Kabupaten Nduga, TNI dan Polri, serta masyarakat (Satgas Kaki Telanjang). Tim Gabungan ini bertugas untuk melakukan verifikasi kasus kematian di Kecamatan Mbua, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Hasil verifikasi menunjukkan bahwa benar terjadi 37 kasus kematian di Kecamatan Mbua, sejak minggu ketiga Oktober sampai dengan minggu keempat Nopember 2015. Pada tanggal 2 Desember 2015 terjadi lagi 1 kematian balita sehingga jumlah menjadi 38 kasus kematian. Kasus kematian terjadi pada 35 balita (0 – 5 tahun) dan 3 dewasa (40 – 55 tahun) serta terjadi di 7 kampung. Kematian terbanyak terjadi di Kampung Otalama.

Dari 38 kasus kematian, sebanyak 30 kasus yang semuanya balita sebelum meninggal menunjukan gejala demam, batuk, sesak, dan disimpulkan kematian disebabkan karena Pneumonia (Radang Paru). Sedangkan 8 kasus lainnya menunjukkan gejala penyakit yang berbeda-beda sebelum meninggal: 6 orang menunjukkan gejala diare, 2 orang batuk berdarah.

Dari hasil verifikasi, diketahui bahwa 30 kasus kematian yang terjadi pada balita karena Pneumonia merupakan hal yang tidak biasa di Kecamatan Mbua. Sebab,  pada periode Januari sampai dengan September 2015 diketahui ada 2 kasus kematian balita.

Pelayanan kesehatan di Kecamatan Mbua cukup memadai. Tersedia 1 Puskesmas yang dilayani oleh 5 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari 1 orang Bidan, 3 orang Perawat, dan 1 orang D3 Farmasi, serta dilengkapi dengan obat-obatan dan alat kesehatan secukupnya. Dokter PTT yang bertugas telah berakhir masa kontraknya. Di samping itu tersedia pula pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Satuan Tugas Kaki Telanjang (Satgas Kijang) yang terdiri dari 1 orang Perawat, 1 orang Bidan, 2 orang Petugas Gizi, 1 Sanitarian, dan 1 Analis.

Pelayanan kesehatan yang tersedia belum banyak diakses oleh penduduk karena kondisi geografis yang sulit dan letak rumah penduduk jauh dari Puskesmas. Di samping itu pengobatan dengan pendekatan keagamaan lebih diminati oleh penduduk.

Meningkatnya kasus kematian pada balita akibat Pneumonia terkait dengan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat. Sebagian besar penduduk tinggal di honai yang relatif sempit, tidak mempunyai ventilasi dan ada perapian yang menyala sepanjang hari di dalam honai.

Pemerintah Pusat berupaya bersama Pemerintah Daerah melakukan upaya peningkatan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang diperkuat dengan upaya promotif – preventif. Langkah yang dilakukan : penempatan Dokter PTT, Sanitarian, Ahli Gizi, Analis, penambahan tenaga Perawat dan Bidan. Dukungan dan kerjasama lintas sektor dilakukan untuk penyediaan sarana sanitasi dan air minum serta perumahan sehat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021)52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.</kode> foto:Lensaindonesia.com (Balita di Papua)

 

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

Tinggalkan Balasan