Refleksi Akhir Tahun Sambut Tahun 2016

0

Jakarta, 31 Desember 2015

Tahun 2015 adalah tahun penuh tantangan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Berbagai masalah kesehatan yang menjadi perhatian publik, hilang timbul disepanjang tahun melibas keberhasilan, kerja keras dan prestasi yang sudah diraih Kementerian kesehatan. Meski demikian, semangat Nawa Cita Agenda ke 5: Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia, Kemenkes hadir dari Pinggir ke Tengah melalui Program Indonesia Sehat.

Di permulaan langkah menjalankan program kesehatan pada Kabinet Kerja tahun 2015 sebagian besar wilayah Ibu Kota tergenang banjir. Sebanyak 8.352 jiwa mengungsi dan sejumlah fasilitas kesehatan juga terendam. Meski demikian, pelayanan kesehatan tetap berjalan seperti biasa. Kemenkes menurunkan bantuan berupa perahu karet untuk evakuasi, life jacket, dan MP ASI, family higiene kit dan obat-obatan paket banjir (Feb 2015).

Demi mengharmonisasi pembangunan kesehatan dengan sektor lain, Menkes secara marathon melakukan pertemuan dengan Menteri Kabinet Kerja. Dari pertemuan ini dihasilkan kesepakan kerjasama dan saling mendukung antar Kemenkes dengan Kemendagri, Kemenkominfo, Kemendesa, Kemendag, Kemenko Ekon, Kemendikti dan kementerian lainnya (Des 2014 – Jan 2015)

Kwartal I tahun 2015, Menkes mengumumkan hasil investigasi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di salah satu RS Swasta terkait kematian 2 pasien di RS tersebut akibat kesalahan zat yang disuntikkan saat dilakukan anestesi spinal. Hasil investigasi menemukan tidak dijumpai penyimpangan standar profesi; tidak ada masalah pada aktivitas pengelolaan dan penyerahan obat pada kasus; dan ada kekeliruan dalam isi ampul dengan label buvanest 0,5 % heavy 4 ml yang isinya adalah Asam Traneksamat 5 ml.

Dalam kasus ini, Kemenkes telah memberi teguran tertulis kepada RS tersebut dan meminta Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS), Dinkes Provinsi dan Kabupaten/Kota lebih aktif membina dan mengawasi RS, serta mendorong Badan POM untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan kepada industri farmasi dalam hal Cara Pembuatan Obat yang baik (CPOB) agar kasus ini tidak terulang.

Di bidang kesehatan Ibu, Kemenkes meluncurkan Kampanye Peduli Kesehatan Ibu dan Anak yang berjalan selama 9 bulan – seperti masa kehamilan – dimulai dari tanggal 21 April di Hari Kartini hingga tanggal 22 Desember di Hari Ibu. Kampanye ini merupakan bagian dari Pekan Imunisasi Dunia. Keberhasilan program imunisasi sangat terkait dari pelaksanaan program kesehatan ibu dan anak sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari upaya pencegahan kematian bayi dan anak.

Awal Mei, Presiden Joko Widodo melepas Tim Nusantara Sehat (NS), sebagai wujud nyata Kemenkes untuk memastikan negara hadir. Tim NS memberikan pelayanan kesehatan primer di titik-titik terdepan Indonesia; yaitu di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan.

NS merupakan salah satu program terobosan barisan penjaga kesehatan masyarakat dengan prioritas utama untuk mendekatkan akses terhadap layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan primer sebagai garda terdepan penjaga kesehatan masyarakat. Kini Tim NS telah mengisi 120 Pusksekmas di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan di 14 provinsi dari Aceh hingga Papua.

Pertengahan tahun 2015, Presiden Joko Widodo sempat menyampaikan kekecewaan karena waktu tunggu bongkar muat kontainer hingga keluar pintu pelabuhan (dwelling time), dianggap lambat. Kemenkes salah satu instansi yang menangani masuknya kapal dan barang di pelabuhan. Adapun peran Kemenkes di Pelabuhan terkait proses pemeriksaan kesehatan awak kapal dan sanitasi kapal beserta muatannya saat kapal tiba serta melakukan proses non transaksional produk alat kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). Kemenkes juga berperan mengeluarkan Surat Persetujuan Impor (SPI) untuk narkotik, psikotropik, dan prekusor. Setelah SPI terbit dari Kemenkes baru importir bisa mendapatkan export permit. Terkait hal ini Kemenkes tidak terlibat dalam dwelling time.

Dipertengahan tahun 2015 Menteri Kesehatan Prof. Nila F. Moeloek menyatakan situasi darurat kesehatan akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan. Untuk mengendalikan dampak kesehatan, Kemenkes telah mengirimkan bantuan logistik maupun tenaga. Bantuan yang dikirimkan berupa alat medis, obat, masker, oxycan; makanan tambahan; tenda isolasi di 5 serta penjernih air. Sementara untuk tenaga kesehatan telah dikirimkan dokter spesialis anak dan Paru/Penyakit Dalam, dokter umum dan perawat masing-masing dari RS. Fatmawati Jakarta, RSCM Jakarta, RS Persahabatan Jakarta, RS Sardjito Yogyakarta, RS. Karyadi Semarang, RS. Hasan Sadikin Bandung, RS. Muhamad Husain Palembang, RS. Adam Malik Medan, dan RS. Jamil Padang.

Berkali-kali dalam setiap kesempatan Kemenkes senantiasa mengimbau agar warga masyarakat di wilayah terdampak kabut asap untuk mengurangi aktivitas di luar rumah bila indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah di atas 400 khususnya bagi bayi, anak-anak, ibu hamil, orang lanjut usia, dan orang yang punya penyakit kronis. Kemenkes juga menganjurkan untuk menutup ventilasi dengan kain basah agar partikel yang ada di dalam asap tidak masuk. Sementara

Kasus MERS-CoV yang sempat mengkhawatirkan Indonesia mengingat banyaknya jamaah umroh dan haji. Menteri Kesehatan Nila Moeloek bersyukur atas terhindarnya jamaah umroh dan haji dari MERS-Cov pada musim haji tahun 2015 ini. Sejak Kloter terakhir pulang tanggal 24 Oktober ditambah masa inkubasi 14-21 hari tidak ada jamaah haji yang tertular MERS-Cov. Hal ini menunjukkan kerjasama yang baik antar Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan.

Soal kematian bayi dan anak-anak di Kabupaten Nduga Papua juga sempat menjadi topik hangat di media termasuk media asing. Hasil investigasi Tim Gerak cepat menemukan penyebab kematian 35 Balita  adalah karena penyakit Pertusis dengan komplikasi Penumonia. Faktor risiko kerjadian pertusis yang meningkat di Kabupaten Nduga antara lain disebabkan karena suhu udara di daerah ini lebih dingin dibanding tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, penduduk tinggal di dalam rumah honai yang tidak memiliki ventilasi. Sementara untuk mengatasi rasa dingin, penduduk membuat perapian di dalamnya. Secara umum, kondisi ini menjadi pencetus gangguan pernapasan termasuk penyakit pertusis.

 

 

 

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

Tinggalkan Balasan