Kendalikan Tembakau Cegah Perokok Pemula pada Anak Indonesia

0

Menkes RI, Prof. Dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K) hadiri acara peluncuran Policy Paper pengendalian tembakau yang dilakukan Center for Indonesia’s Strategic Development Iniviatives (CISDI) di Gedung Stovia, Jakarta (30/8). Melalui peluncuran ini diharapkan mampu memperkuat peta jalan upaya pengendalian tembakau dan pengurangan jumlah perokok pemula di Indonesia.

Acara ini dikemas dalam bentuk diskusi publik dengan narasumber antara lain Diah S. Saminarsih, Staf Khusus Menteri Kesehatan RI bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs dan Anindita Sitepu, Direktur Program CISDI.

Menkes mengatakan, tahun 2035 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia produktif lebih besar dibandingkan dengan usia anak dan Lansia sehingga akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu peningkatan jumlah perokok anak akan menjadikan bencana demografi. Hal ini dikarenakan mereka yang saat ini berusia anak usia sekolah dan remaja bila sudah merokok, maka pada tahun 2035 maka akan menjadi masalah.

“Bonus demografi ini merupakan tantangan atau peluang bagi kita semua untuk mengisi manusia produktif di tahun 2035. Sekarang kita berpikir apakah usia produktif ini (remaja/usia muda) dapat mencapai manusia yang sehat? Bila tidak, maka bonus demografi ke depan akan menjadi bencana”, ujar Menkes.

Pengendalian tembakau di Indonesia begitu mendesak dan selayaknya menjadi upaya bersama masyarakat, karena tanggung jawabnya ini melibatkan lintas sektor. Indonesia sendiri adalah satu diantara 5 negara produsen tembakau terbesar di dunia yang menyumbang pada produksi sebanyak 7,5 ton tembakau bagi konsumsi global setiap tahunnya.

Dengan memperkuat upaya pengendalian tembakau, dapat mencegah anak-anak maupun remaja untuk memulai merokok. Masyarakat, termasuk kalangan menengah ke bawah pun seharusnya tak mendapat kemudahan akses terhadap rokok. Hal ini dikarenakan, banyak masyarakat kurang mampu yang menjadi konsumen rokok, yang seharusnya uang tersebut digunakan untuk membeli makanan sehat.

“Saya setuju kalau melihat tembakau jangan hanya dari sisi kesehatan, tapi dampak lebih luas. Kalau dari kesehatan sudah sering kita mendengarnya. Lihat dari segala sisi,” tambah Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat emailkontak@kemkes.go.id.

Bagikan.

Tentang Penulis

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat melaksanakan koordinasi dan pelaksanaan komunikasi publik melalui media massa dan opini publik, pelayanan informasi publik serta hubungan antar lembaga.

Tinggalkan Balasan