Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, RS dr. Soeradji Klaten Perbesar Instalasi Rawat Jalan

0

Klaten, 12 Juli 2019

Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu, RS dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST), Klaten, Jawa Tengah diperbesar untuk meningkatkan pelayanan kesehatan rawat jalan. Sebelumnya gedung tersebut tidak memiliki ruang yang cukup untuk menerima banyak pasien.

Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu telah diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek pada Jumat (12/7). Gedung itu dibangun karena kondisi poliklinik sebelumnya yang hanya bisa menampung sekitar 400 hingga 500 pasien / hari sementara saat ini jumlah pasien mencapai 1.000 hinga 1.200 setiap hari.

Gedung berlantai 5 ini memberikan pelayanan secara terpadu, seluruh pelayanan memakai sistem one-stop service, artinya alur pelayanan sejak dari pendaftaran hingga pengobatan akan dilayani di sana. Pasien dapat melakukan pendaftaran, pemeriksaan dokter, pemeriksaan penunjang hingga pengobatan di satu gedung yang sama, selain itu pasien juga akan mendapatkan penyuluhan.

“Dengan kemudahan dan kenyamanan di Instalasi Rawat Jalan Terpadu diharapkan memberi kepuasan batin dan kepuasan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, sehingga masyarakat tidak segan untuk berobat di RSST. Pelayanan tersebut tidak dipersembahkan bagi masyarakat Klaten semata, tetapi juga diharapkan mampu menjangkau masyarakat Surakarta, Jawa Tengah, bahkan se Indonesia,” kata Direktur Utama RSST dr. Endang Widyaswati, M.Kes

Dalam upaya mencapai pelayanan kesehatan yang efisien, bermutu, merata serta terjangkau, perlu disadari bahwa tidak akan mungkin hanya dikerjakan oleh pemerintah saja tanpa dukungan dari dunia usaha atau kalangan swasta dan seluruh lapisan masyarakat. Sesuai dengan nilai inklusif Kementerian Kesehatan bahwa semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak.

Saat ini rumah sakit harus mengubah paradigma pelayanannya agar berfokus pada pasien dengan membangun kolaborasi interdisiplin profesional. Seluruh profesi harus mengacu pada standar pelayanan kedokteran tentang keselamatan pasien sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Pada akhirnya dampak dari perubahan ini sangat menguntungkan bagi rumah sakit itu sendiri, karena akan mengurangi Length of Stay (LOS) / lama rawat inap, menurunkan harga unit cost per kasus, menurunkan adverse event, menurunkan biaya operasional dan klaim lebih, bahkan dapat meningkatkan kepuasan SDM dan pemasaran rumah sakit.

Pembangunan gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu merupakan bukti pelayanan berfokus pada pasien. Selain itu juga pembangunan gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu dalam rangka mendukung UU nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, maka diperlukan penyelenggaraan fasilitas fisik Rumah Sakit yang memenuhi standar aman dan nyaman.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan rumah sakit senantiasa melaksanakan amanat Undan-undang Nomor 44 Tahun 2009 itu dengan sebaik-baiknya dan menjamin terlaksananya fungsi sosial rumah sakit melalui penyediaan tempat tidur kelas III bagi pasien miskin dan tidak mampu, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, serta bakti sosial kemanusiaan.

“Saya memahami upaya direktur utama dan jajaran direksi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau, khususnya rawat jalan, dengan pembangunan gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu yang modern dan tertata baik, dan sekaligus memenuhi Visi dan Misi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Pembenahan sistem rujukan antar fasilitas pelayanan kesehatan dapat berjalan baik merupakan salah satu solusi yang dapat dilaksanakan, dan saya harapkan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro dapat menjadi teladan bagi rumah sakit di sekitarnya,” kata Menkes.

Selain diresmikannya Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu pada kesempatan ini dilaksanakan pula peletakan batu pertama pembangunan Gedung Bedah Sentral Terpadu (GBST) dan Critical Center yang letaknya berada di depan Instalasi Rawat Jalan Terpadu. Gedung Bedah Sentral Terpadu ini akan dibangun 5 lantai dengan daya tamping 90 pasien.

Rencananya lantai 1 akan digunakan untuk IGD dan CSSD, lantai 2 digunakan untuk NICU level II dan NICU level III, lantai 3 digunakan untuk ruang ICU, ICCU dan HCU, serta lantai 4 dan 5 digunakan untuk kamar operasi, persiapan dan recovery. Pembangunan gedung yang dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2019 ini merupakan salah satu upaya RSST dalam meningkatkan fasilitas pelayanan medis bagi masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.(D2)

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat

drg. Widyawati, MKM

Bagikan.

Tentang Penulis

Redaksi Sehat Negeriku

Tinggalkan Balasan